Sabtu, 9 April 2011

TeRapI reALiTaS

Ø Pendahuluan

I. Pengenalan

Terapi realitas ialah suatu model terapi yang dikembangkan oleh William Glasser sebagai reaksi melawan terapi konvensional. Terapi realitas adalah terapi jangka pendek yang berfokus pada saat sekarang, menekankan kekuatan pribadi, dan pada dasarnya merupakan jalan di mana para klien bisa belajar tingkah laku yang lebih realistik dan karenanya, klien bisa mencapai keberhasilan. Dalam terapi ini, konselor berfungsi sebagai guru dan model serta mengonfrontasikan klien dengan cara-cara yang bisa membantu klien menghadapi kenyataan dan memnuhi kebutuhan dasar tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain.

Inti terapi realitas adalah penerimaan tanggung jawab pribadi yang disamakan dengan kesehatan mental. William Glasser mengembangkan terapi ini dari keyakinan bahwa terapi konvensional sebagian besarnya berlandaskan asumsi-asumsi yang keliru. Selain itu, terapi realitas juga menguraikan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedur yang dirancang untuk membantu orang-orang dalam mencapai suatu identitas keberhasilan.

Ø Konsep-Konsep Utama

I. Pandangan Tentang Sifat Manusia

Terapi realitas berlandaskan asumsi bahwa ada suatu kebutuhan psikologis tunggal yang hadir sepanjang hidup, yaitu kebutuhan akan identitas yang mencakup suatu kebutuhan untuk merasakan keunikan, keterpisahan, dan ketersendirian. Kebutuhan akan identitas menyebabkan dinamika-dinamika tingkah laku dipandang sebagai universal pada semua kebudayaan. Asas dari terapi realitas adalah membantu klien dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar psikologisnya seperti kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta kebutuhan untuk merasakan bahwa kita berguna baik bagi diri kita maupun bagi orang lain.

Pada dasarnya, manusia ingin puas hati dan menikmati suatu identitas keberhasilan, menunjukkan tingkah laku yang bertanggung jawab dan memiliki hubungan interpersonal yang penuh makna. Penderitaan pribadi bisa diubah dengan perubahan identitas dan perubahan identitas bergantung pada perubahan tingkah laku. Dalam pembentukan identitas, masing-masing dari kita mengembangkan keterlibatan-keterlibatan dengan orang lain dan dengan bayangan diri, dimana dengannya kita akan merasakan keberhasilan atau ketidak berhasilan diri kita. Orang lain memainkan peranan yang berarti dalam membantu kita menjelaskan dan memahami identitas kita sendiri.

II. Ciri-Ciri Terapi Realitas

Sekurang-kurangnya terdapat delapan ciri-ciri yang menentukan terapi realitas. Kedelapan ciri tersebut adalah:

1) Menolak konsep kesehatan mental. Terapi ini berasumsi bahwa bentuk-bentuk gangguan tingkah laku yang spesifik adalah akibat dari ketidak bertanggungjawaban.

2) Berfokus pada tingkah laku sekarang alih-alih pada perasaan dan sikap. Meskipun tidak menganggap perasaan dan sikap itu penting, terapi realitas beranggapan bahwa perubahan sikap mengikuti perubahan perilaku.

3) Berfokus pada saat sekarang. Menurut terapi realitas, masa lampau seseorang itu tidak bisa diubah, yang bisa diubah hanyalah saat sekarang dan masa yang akan datang.

4) Menekankan pertimbangan-pertimbangan nilai. Terapi realitas menempatkan pokok kepentingannya pada peran klien dalam menilai kualitas tingkah lakunya sendiri dalam menentukan apa yang menyebabkan kegagalan yang dialaminya.

5) Tidak menekankan transferensi. Terapi realitas mencari suatu keterlibatan manusiawi yang memuaskan dengan orang lain dalam keberadaan mereka sekarang.

6) Menekankan aspek-aspek kesadaran. Terapi realitas menekankan kekeliruan yang dilakukan oleh klien, bagaimana tingkah laku klien sekarang hingga dia tidak mendapatkan apa yang diinginkan dan bagaimana dia bisa merencankan suatu tingkah laku yang berhasil berlandaskan tingkah laku yang bertanggung jawab dan realistis.

7) Menghapus hukuman. Terapi realitas menekankan bahwa pemberian hukum guna mengubah tingkah laku tidak afektif. Glasser menganjurkan untuk membiarkan klien mengalami konsekuensi-konsekuensi yang wajar dari tingkah lakunya.

8) Menekankan tanggung jawab. Menurut Glasser, kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sendiri dan melakukannya dengan cara tidak mengurangi kemampuan orang lain dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, itu berati bertanggung jawab.

III. Tujuan-Tujuan Terapeutik

Tujuan umum terapi realitas adalah membantu seseorang untuk mencapai otonomi. Otonomi adalah kematangan yang diperlukan bagi kemampuan seseorang untuk mengganti dukungan lingkungan dengan dukungan internal. Terapi realitas membantu orang-orang dalam menentukan dan memperjelas tujuan mereka. Selanjutnya ia memberi alternatif dalam mencapai tujuan-tujuan tersebut. Yang menetapkan tujuan adalah klien.

IV. Fungsi Dan Peran Terapis

Tugas dasar terapis adalah melibatkan diri dengan klien dan kemudian membuatnya menghadapi kenyataan. Terapis harus bertindak sebagai pembimbing yang membantu klien agar bisa menilai tingkah lakunya sendiri secara realistis. Menurut Glasser, terapis harus bersedia untuk berfungsi sebagai seorang guru dalam hubungannya dengan klien.

Fungsi penting lainnya dari terapi realitas adalah memasang batas-batas, mencakup batas-batas dalam situasi terapeutik dan batas-batas yang ditempatkan oleh kehidupan pada seseorang. Glasser dan Zunin, menunjuk penyelenggaraaan kontrak sebagai suatu tipe pemasangan batas. Selain fungsi dan tugas tersebut, kemampuan terapis untuk terlibat dengan klien serta untuk melibatkan klien dalam proses terapeutik dianggap paling utama.

V. Hubungan Antara Terapis Dan Klien

Sebelum terjadi terapi yang efektif, keterlibatan antara terapis dan klien harus berkembang. Berikut tinjauan ringkas atas prinsip-prinsip atau konsep-konsep yang spesifik yang dikemukakan oleh Glasser dan Zunin.

1) Terapi realitas berlandaskan hubungan atau keterlibatan pribadi antara terapis dan klien.

2) Perencanaan adalah hal yang esensial dalam terapi realitas.

3) Komitmen adalah kunci utama terapi realitas.

4) Terapi realitas tidak menerima dalih.

VI. Teknik-Teknik Dan Prosedur-Prosedur Utama

Terapi realitas bisa ditandai sebagai terapi yang aktif secara verbal. Dalam membantu klien untuk mencapai keberhasilan dalam hidup, terapi bisa menggunakan beberapa teknik sebagai berikut:

1) Terlibat dalam permainan peran dengan klien.

2) Menggunakan humor.

3) Mengonfrontasikan klien dan menolak dalih.

4) Membantu klien dalam merumuskan rencana-rencana yang spesifik bagi tindakan.

5) Bertindak sebagai model dan guru.

6) Memasang batas-batas dan menyusun situasi terapis.

7) Menggunakan terapi kejutan verbal atau sakarsme.

8) Melibatkan diri dengan klien dalam upayanya mencari kehidupan yang lebih efektif.

VII. Penerapan Pada Situasi-Situasi Konseling

Glasser dan Zunin percaya bahwa teknik-teknik terapi realitas bisa diterapkan pada lingkup masalah behavioral dan emosional yang luas. Mereka menyatakan bahwa prosedur-prosedur terapi realitas telah digunakan dengan berhasil pada penanganan “masalah-masalah individu yang spesifik seperti masalah kecemasan, maladjusment, konflik-konflik perkahwinan, perversi dan psikosis”.

Ø Kesimpulan

Terapi realitas tampaknya cocok bagi intervensi-intervensi singkat dalam situasi-situasi konseling krisis dan bagi penanganan para remaja dan orang-orang dewasa penghuni lembaga-lembaga untuk tingkah laku kriminal.

Keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari terapi realitas tampaknya adalah jangka waktu terapinya yang relatif pendek dan berurusan dengan masalah-masalah tingkah laku sadar. Klien dihadapkan pada keharusan mengevaluasi tingkah lakunya sendiri dan membuat pertimbangan nilai.

Dari aspek kekurangan pula, terapi realitas tidak memberi penekanan yang cukup pada dinamika-dinamika tak sadar dan pada masa lampau individu sebagai salah satu determinan dari tingkah lakunya sekarang.